Wafey Nafla. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

.::. Aisyah dan Ma'isyah .::.

.::. sudah siapkah untuk menikah? .::.

* sebetulnya, wajar saja jika orang tua menanyakan kesiapan finansial seorang pelamar ketika ingin meminang putrinya. namun, jangan lantas itu menjadi hambatan besar untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
* meski sudah memiliki penghasilan yang memadai dan cukup untuk meminang 'Aisyah', pihak pria terkadang masih belum PD untuk melakukannya. alasannya, harus mengumpulkan dana dulu untuk menggelar resepsi pernikahan.

# indikator siap menikah untuk laki-laki
* ternyata kesiapan finansial sering kali dijadikan salah satu indikator, bahkan terkadang menjadi indikator utama penilaian kesiapan seorang ikhwan untuk menikah.
* bekerja atau tidak, yang penting punya penghasilan, atau sanggup memberi nafkah yang memadai untuk keluarganya nanti.

# standar kemapanan finansial bisa ditilik dari:
- mampu mensyukuri penghasilan yang ada
- mampu mencukupi kebutuhan dasar secara mandiri
- memiliki semangat untuk terus meningkatkan penghasilan

#  berapa tabungan yang diperlukan untuk melangsungkan acara pernikahan?
* sebetulnya, biaya pernikahan itu tidak perlu terlalu dikhawatirkan, yang lebih perlu untuk dievaluasi adalah apakah penghasilan yang ada bisa memadai untuk menanggung nafkah keluarga nantinya atau tidak.
* memang secara moral, pembiayaan pernikahan masih tanggung jawab oang tua. kendati demikian, tidak bijak rasanya jika perhelatan tersebut menelan biaya yang cukup besar sementara kemampuan mereka terbatas.

# indikator siap menikah untuk perempuan
* jika sudah memiliki penghasilan yang halal, baik dan memadai, walaupun mungkin tidak memiliki tabungan sepeserpun, sudah dikategorikan siap menikah. ini penilaian dari sudut pandang finansial.
* setidaknya ada 2 hal yang perlu dipersiapkan oleh akhwat sebelum menikah, yaitu:
- persiapan untuk mengelola keuangannya sendiri
- persiapan untuk menghadapi perubahan gaya hidup mulai dari awal dengan keluarganya yang baru.
* penghasilan tidak seberapa bisa jadi karena ikhtiar yang belum sempurna, bisa juga karena do'a yang terputus atau maksiat yang menghalangi rezeki Allah. maka hendaknya sang istri banyak bersabar dan sang suami banyak berikhtiar.

#  jika kenyataan tak seindah impian
karena jodoh adalah salah satu ketentuan-Nya, maka bersiaplah menerima apa yang Allah tentukan. yakinlah bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik bagi kita, dan perlu usaha untuk mencapainya.


.::. Ta'aruf Keuangan .::.

* kalau kita tidak mengenal calon pasangan kita dengan baik, termasuk masalah keuangan, bisa jadi kita akan merasa tidak cocok begitu hidup bersama. tetapi jika kita tahu sejak awal, maka kita punya kesempatan untuk menyesuaikan diri atau menyiapkan diri.
* "...siapapun yang dagingnya tumbuh dari yang haram, maka api neraka lebih layak membakarnya." (HR ath-Thabrani)
* jika ditolak lantaran standar finansial tidak memenuhi kriteria sang calon, berbahagialah! kenapa? karena berarti telah terhindar dari masalah yang lebih besar, yaitu masalah keuangan di masa depan.

# kesetaraan keuangan dalam pernikahan
*  "wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu." (HR Muslim)
* "barangsiapa menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan laki-laki meskipun buruk agamanya dan akhlaknya, maka tidak pernah pernikahan itu diberkahi-Nya..." (HR ath-Thabrani)
* jangan nilai calon pasanganmu dari kondisinya pada saat ini, tapi nilailah ia dari potensi yang dimilikinya. InsyaAllah, ia bisa menjadi jauh lebih besar daripada dirinya yang sekarang.


.::. mampu dulu baru menikah, atau menikah agar mapan? .::.

* menunggu kemapanan ekonomi untuk menikah (atau dinikahi) dapat dianalogikan seperti naik helikopter dan ingin langsung melihat pemandangan tanpa melalui susah payahnya mendaki gunung.
* percayalah perasaannya akan sangat berbeda sekali jika Anda dan pasangan berjuang bersama dari nol daripada mengajak pasangan langsung berada di titik kemapanan.
* bahkan kalau mau jujur, di balik kesuksesan para tokoh dunia, ada para istri yang mendukung di sampingnya.

# perempuan tak kalah khawatirnya
* manusia itu cenderung memiliki kekhawatiran akan kesulitan duniawi. tetapi bukankah menikah adalah salah satu dari sekian banyak rezeki dari Allah?
* "bukan termasuk golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah, kemudian ia tidak menikah." (HR ath-Thabrani)
* memang setiap orang memiliki cara mengelola uang yang berbeda-beda, yang biasanya terbawa karena kebiasaan dan persepsi yang berasal dari keluarga dan lingkungan. namun, janganlah hal ini menjadi 'momok' besar yang menghalangi unutk menikah.


.::. antara ragu, nekat, dan mandiri .::.

# untuk mereka yang masih ragu
* "...jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui." (an-nuur: 32)

# antara nekat, berani, dan tawakkal
* berani adalah kalau melakukan sesuatu yang luar biasa dengan persiapan dan perencanaan yang matang.
* sedangkan nekat adalah melakukan sesuatu tanpa persiapan sama sekali.
* pemuda yang berani dan bertawakkal adalah pemuda yang berdo'a agar mendapatkan yang terbaik, dan ia telah siap walaupun harus menghadapi kenyataan yang pahit. ia sempurnakan ikhtiarnya mencari ma'isyah agar layak mempersunting 'Aisyah'.


.::. menyiapkan dana pernikahan .::.

* kalau kita menunggu kepastian kapan dan dengan siapa kita akan menikah, barulah kemudian menyiapkan dananya, maka hampir bisa dipastikan kita sudah terlambat. jodoh ini adalah rahasia Allah yang terkadang kita tidak dapat duga kapan tiba waktunya.

# apa yang harus saya persiapkan?
* belum ada rencana yang matang bukan berarti kita tidak perlu melakukan persiapan. walaupun baru target saja untuk bisa menikah setidaknya lima tahun lagi, tapi tetap bijaksana untuk mempersiapkan segalanya sedini mungkin.
* yang lebih perlu dilakukan oleh pemuda-pemudi pada masa pranikah bukanlah mempersiapkan dana pernikahan, tetapi mempersiapkan kondisi finansial pascapernikahan.

# sejak kapan sebaiknya menyiapkan dananya?
* berikut ini adalah beberapa alternatif produk investasi yang bisa dijadikan sebagai sarana dalam menyimpan dan mengembangkan dana pernikahan: tabungan berjangka, deposito, emas, reksadana.
* menabung dengan metode tabungan berjangka cocok untuk karyawan yang pemasukannya rutin dan gajinya ditransfer ke rekening tabungan di bank.
* cara menabung dengan metode deposito itu lebih cocok untuk orang yang memang sudah bisa disiplin menabung sendiri sedikit demi sedikit.
* menyimpan uang dalam bentuk emas mempunyai dua keuntungan, yaitu nilai tabungan tidak akan menyusut meskipun terjadi kenaikan harga; dan di periode tertentu, kadangkala nilai emas bisa naik.

# membangun mental penabung
* "Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan uang secara sederhana, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya." (HR Muslim dan Ahmad)
* menabung sesungguhnya mengandung hikmah yang lebih besar dari berhemat, yaitu agar kita mampu menangguhkan keinginan dan memprioritaskan yang lebih penting.

# berapa dana yang dibutuhkan?
* ingat, mengadakan perhelatan pernikahan ini adalah sunnah, tidak perlu sampai bermegah-megah. yang terpenting adalah permaknaannya.
* "sesungguhnya diantara keberkahan wanita ialah kemudahan peminangannya dan kemudahan maskawinnya." (HR Ahmad)
* "adakanlah walimah meskipun dengan (menyembelih) seekor kambing." (HR Bukhari dan Muslim)
* "sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah." (HR Abu Dawud)

# kiat menghemat biaya resepsi pernikahan
*kalau tidak mau repot, memang akan lebih simpel jika pernikahannya diadakan di gedung. namun, mengadakan  acara pernikahan dirumah itu akan jauh lebih ekonomis.
* jangan lupa untuk menghitung jumlah yang akan diundang oleh pihak pengantin laki-laki, pengantin perempuan, dan kedua keluarga besan.
* ada dua paket yang bisa dipilih, yaitu paket yang sudah tetap harganya, atau paket yang dihitung per orang. untuk paket pertama, bisa memilih sesuai anggaran, tetapi harus membatasi jumlah undangan. sedangkan untuk paket kedua, bisa fleksibel menentukan jumlah undangan.

# tips menghemat biaya pernikahan
- gedung tak harus strategis
- rumah sendiri juga bisa lebih indah
- bijak memilih undangan
- variatif menghidangkan makanan
- cari paket yang masih bisa di diskon

# kekhawatiran pasangan muda
* langkah awal yang bijak untuk dilakukan dalam mengadakan resepsi pernikahan adalah mengukur terlebih dahulu kemampuan untuk mengadakan pesta. kemampuan ini melingkupi kamampuan masing-masing mempelai, maupun kemampuan keluarganya.
* keputusan apapun yang akan diambil mengenai perhelatan peernikahan, komunikasikan dengan baik kepada kedua orangtua dari dua belah pihak.

# bijakkah berhutang untuk pernikahan?
* prioritas keuangan dalam pernikahan seharusnya adalah bagaimana agar kedua mempelai bisa hidup berumah tangga secara mandiri sesudah acara pernikahannya selesai. kalau sudah habis-habisan untuk pesta sampai berhutang sana-sini, itu jelas salah prioritas.
* rumus keuangan yang benar adalah pengeluaran yang sudah pasti diambil dari pemasukan yang sudah pasti juga.


.::. mahar dan resepsi .::.

* mahar adalah sesuatu yang halus, yang menaburkan benih cinta dalam memulai kehidupan yang baru bagi sepasang suami istri.
* mahar merupakan lambang pemberian yang nilainya tidak terletak pada besar kecilnya, melainkan terletak di dalam perasaan orang yang memberikannya dan keinginannya untuk memuliakan teman hidupnya (istrinya).

# resepsi
* esensi dari digelarnya resepsi pernikahan adalah sebagai 'pengumuman' dan 'ungkapan syukur'.
* karena resepsi pernikahan merupakan bentuk ungkapan syukur, maka tentunya  harus diadakan dalam keadaan suka cita dan suka rela, tidak perlu sampai memaksakan diri.


.::. tantangan sendiri .::.

* "maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (al-Insyirah: 5-6)
* menyelenggarakan acara pernikahan akan lebih hemat jika acaranya diatur sendiri dengan bantuan  teman-teman atau saudara yang sudah berpengalaman. selain bisa menekan biaya, juga bisa memperat silaturahmi di antara Anda dan kerabat serta sahabat yang membantu.


.::. memulai hidup baru .::.

# kemana amplop itu pergi?
* uang amplop sifatnya adalah hibah atau hadiah. sudah barang tentu jumlahnya tidak bisa dipastikan, bahkan memberi atau tidak juga tidak bisa dipaksakan. ini bergantung pada sukarela si pemberi.
* "tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang dibawah. tangan diatas adalah yang memberi infak, sedang tangan dibawah adalah tangan yang meminta." (HR Bukhari)


.::. tanggung jawab suami istri .::.

# tanggung jawab finansial suami
* "istri-istri memiliki hak atas kalian, yaitu biaya hidup dan pakaian dengan makruf (baik)." (HR Muslim)
* bukanlah kezaliman jika suami hanya bisa memberikan nafkah sekadarnya sedangkan ia sendiri pun hidup dengan standar itu.

# tanggung jawab finansial istri
* walaupun tidak memiliki tanggung jawab untuk memberi nafkah, ternyata istri juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan pahala yang sama dengan suaminya yang mencari nafkah. yaitu apabila ia mengelola nafkah yang diberikan oleh suaminya dengan baik.

sumber: Aisyah dan Ma'isyah (GIP)
readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bayang-Bayang Gurita

Latarbelakang Sejarah Free Masons

Awal mula rencana global ini bukan berasal dari Gedung Putih. Kita harus mundur jauh kebelakang dalam sejarah, jauh hari sebelum pendatang menetap di Amerika Utara.Pada tahun 1095 disebuah tempat bernama Claremont, Perancis. Diabad ke 11 Eropa pada saat itu dibawah kekuasaan gereja. Kekuasaan ini memberi peluang bagi Paus Erwin II untuk membiayai peperangan terhadap khalifah Islam. Mereka menjuluki peperangan ini sebagai perang salib untuk merebut kembali wilayah Yerusalem, yang telah berada dalam kekuasaan Islam sejak tahun 637 dimana pada tahun 1099 semua ini menjadi pertumpahan darah yang maha dasyat.

Dengan nama Salib, wanita diperkosa dan dibantai, anak-anak di hunus dengan pedang digambarkan pada saat itu, banjir darah diruas-ruas jalan hingga setinggi dengkul kuda (Saya tidak percaya telah terjadi banjir darah hingga separah itu, tetapi hal ini menggambarkan telah terjadi pembantaian kejam dalam perang Salib pada saat itu). Dari lahan tempat terjadinya pertumpahan darah dan kekejaman itu maka bangkitlah beberapa orang, yang pantang menyerah dalam tujuannya untuk mendapatkan segalanya berapapun harga yang harus dibayarnya.

Ketika di Yerusalem, para Pendekar ini mulai berpaling semakin jauh dari ajaran-ajaran Kristianiti. Mereka mempelajari ilmu rahasia Kabala, sebuah ilmu hitam Yahudi kuno sekaligus dengan penyembahannya. Orang-orang Yahudi mempelajarinya dari para penyihir-penyihir Mesir kuno (pada zaman perbudakan saat kekuasaan Fir’aun) mereka kemudian membawa ilmu ini ke Babilon yang pada saat itu bernama Navakanazar.Pada tahun 1307, pada saat kekuasaan Raja Philip dari Perancis, para Templers itu ditangkap dengan tuduhan penyangkalan terhadap Nabi Isa, homosexualitas dan pemuja berhala dan juga sihir.Pada tahun 1314 Paus Claymont V menyerukan perang kepada semua yang menyangkal agama Kristen, maka tanah dan kepemilikannya diambil alih.

Pimpinan mereka Chekthemolay ditangkap dan dibakar. Para Templers mulai terpojok dan pada saat situasi seakan mereka sudah merasa tamat, sepercik cahaya muncul dari suatu sudut penuh harapan. Mereka mendapatkan tempat aman dan perlindungan, tapi bukan di Perancis. Tetapi di sebuah Negara yang sedang berupaya dan berjuang untuk kemerdekaan dari Inggris. Negara tersebut adalah Skotlandia. Harapan Skotlandia untuk kemerdekaan telah luluh dengan wafatnya William Wallace. Untuk Raja Skotlandia “Robert the Bruce” kehadiran para pejuang merupakan angin segar.

Pengalaman mereka yang telah berperang melawan pasukan tangguh Islam selama lebih dari dua ratus tahun menjadikan mereka pakar dalam pertarungan dan peperangan bergabungnya mereka menjadikan kekuatan tangguh bagi pasukan manapun.Ditahun 1314 para Templers ini bergabung dengan Bruce dan pasukannya, mereka turun kemedan “Ballack Burn” untuk pertarungan melawan Inggris yang telah lama dinantikannya. Aliansi Robert Bruce dengan para pemuja berjaya, 25,000 kekuatan tentara Inggris dipermalukan dengan kekalahan sekalipun hanya melawan enam ribu lima ratus orang. Impian kemerdekaan bagi Skotland akhirnya terpenuhi. Para Templers telah bangkit kembali dariujung kehancuran, sejak saat itu mereka tidak pernah lagi terkalahkan. Kali ini mereka akan mengendalikan negaranya dengan cara mengendalikan Rajanya demi melestarikanperintah rahasia para Templers rela mati demi apapun. Para Templers yang berhasil lolos dari Eropah akhirnya dapat beristirahat dengan tenang dalam Rovelin Chapel Skotlandia yang hingga saat ini tetap berdiri megah pertanda kehadiran mereka di Inggris. Keturunan mereka tumbuh dan berkembang sebagai lambang kekuatan dari Skotlandia. Pada tahun 1603 dengan wafatnya Ratu Elizabeth I berdampak terhadap kelanjutan kerajaan tersebut sehubungan tidak adanya keturunan sebagai penerus kepemimpinan, maka sebagai pelimpahan kepemimpinan di Inggris pada saat itu jatuh kepada Raja James V dari Skotlandia yang selanjutnya menjadi Raja. Oleh sebab itu Skotlandia dan Inggris bergabung menjadi satu kerajaan baru dan kekuatan para Templers menguasai kejayaan Skotlandia dan selanjutnya menyebar dan berpengaruh diseluruh wilayah Inggris. Untuk lebih dari seratus tahun para Templers merahasiakan aktivitas mereka sebagai bayang-bayang.

Maka sejalan dengan penrkembangan waktu, hari demi hari, hingga kehadiran mereka sedikit demi sedikir semakin pudar hingga suatu saat akhirnya terlupakan.Dan sejak saat itu sesuai dengan berjalannya waktu dan secara turun menurun, Selama ini mereka terus dan selalu memanfaatkan waktu berencana dan menjalankan aktifitas dan kegiatan mereka sesuai dengan apa yang telah mereka buat dalam sebuah perencanaan yang komprehensif.Mereka terus memadukan kekuatan-kekuatan dan melakukan penyusupanpenyusupan merebut dan menguasai posisi-posisi dan kedudukan-kedudukan penting dan strategis menjadikan suatu kekuatan yang terpadu disegala penjuru dan wilayah kerajaan. Pada tahun 1717 para templers kembali menunjukan eksistensi mereka di Eropah. Kini mereka telah tumbuh baik dalam jumlah maupun kekuatan dimana mereka telah siap untuk untuk bangkit, dimana mereka melakukan pembaharuan jati diri, bersih dan terbebas dari pengaruh dan reputasi masa lalu. Identitas baru mereka memberikan kredibilitas baru dalam lingkungan kerajaan Inggris. Nama yang menjadi pilihan mereka, sebuah nama yang diketahui oleh banyak orang namun hanya dimengerti oleh segelintir manusia adalah “Free Masons”.

“Kita harus membiarkan federasi ini untuk terus berjalan sebagaimana adanya…TETAPI kita harus menciptakan sebuah SUPER RITE, yang akan tetap terjaga kerahasiaannya, dimana kita akan menamakan mereka sebagai para Mason dengan derajat yang tinggi, para pilihan, dimana kita yang akan memilih mereka.Berkaitan dengan para saudara kita dalam Masonry, mereka ini HARUS disumpah dengan ganjaran yang paling tinggi untuk menjaga kerahasiaan. Melalui SUPREME RITE ini, kita akan menguasai SELURUH freemasonry dimana akan kita jadikan menjadi sebuah sentra internasional, dan akan menjadi lebih kuat dan tangguh karena arah dan tujuan kita tidak akan terditeksi dan TIDAK AKAN DIKETAHUI” (Giuseppe Mazzini)

Identitas baru ini akan mengangkat derajat dan harga diri Free Mason.Anggota pertama Free Mason dalam dunia ini adalah Frederick, Putra Mahkota dari Wales. Hingga anggota yang terkini termasuk diantaranya Pangeran Philip dari Duke of Edinborough dan pasangan Ratu Elizabeth II dari Inggris, dimana Ratu Elizabeth II juga merupakan patron tingkat tinggi dari Mason. Dibalik pintu dan dalam ruangan tertutup para Free Mason bebas melakukan aktivitas dan kegiatan ilmu hitam dan ritual yang dilakukan turun temurun dari para pendahulu mereka, selanjutnya ritual ini menjadi bagian dari tingkat derajat kedudukan dan keanggotaan mereka yang selanjutnya disebut sebagai “Tingkat/Degree”.

Free Mason jelas tidak puas dengan kekuasaan mereka di Inggris saja; ambisi mereka jauh lebih besar dan tinggi dari itu!Pada tahun tahun berikutnya, dunia dan Amerika dihujani dengan berbagai peperangan dan revolusi, Semua kejadian ini sesungguhnya tidak seperti yang dipercaya oleh kebanyakan orang pada umumnya, yang merupakan kejadian-kejadian yang penuh dengan spontanitas, melainkan dikendalikan oleh beberapa gelintir manusia yang haus akan sebuah kekuasaan yang mutlak.

Semua ini diawali dari sebuah Negara yang telah mereka tinggalkan ratusan tahun yang lampau dan akan kembali kepangkalan mereka untuk penguasaan Global seandainya kekejaman mereka terpenuhi.Perancis pada abad ke 18, dimana mayoritas penduduknya hidup dibawah garis kemiskinan dan para pemimpin mereka hidup dengan penuh kemewahan. Disitu terdapat perbedaan atau gap yang sangat curam diantara kedua kelas. Para Free Mason akan memanfaatkan peluang ini untuk melontarkan janji-janji atau kesepakatan demi kekuasaan yang menghasilkan sebuah kekacauan luar biasa dalam sejarah kehidupan Perancis. Dalam keadaan dimana terus meningkatnya suhu dan amarah warga Perancis ini, Para Mason mengambil kesempatan dan peluang dalam mempropagandakan peperangan yang telah mereka rencanakan dengan rapihdan matang.

Dengan menguasai sistem media maka dengan mudah mereka memanfaatkannya sebagai gelombang dalam mempengaruhi pembentukan opini public (seperti halnya para Yahudi yang pada saat ini telah menguasai media cetak dan elektronik di Amerika Serikat). Media cetak dan surat kabar diarahkan untuk menyuarakan hari-hari kehancuran kerajaan pada saat itu dan membangun kebangkitan rakyat berazaskan pada kebebasan, kebersamaan dan penutupan. Kekuatan akan kekayaan para Mason terlimpahkan untuk mempengaruhi lanskap dan infrastuktur politik Perancis. Politisi dibayar dan dibeli oleh para Mason guna memperjuangkan dan mempromosilan ideologi Masonik. Pertemuan-pertemuan rahasia para Mason mulai terbuka untuk anggota tentara Perancis; Para jenderal dan petinggi militer mulai mendapat indoktrinasi tentang ajaran-ajaran serta cara dan pola pikir para Mason. Maka dengan masyarakat, politisi dan militer dalam genggaman dan kendali para Mason, para Mason akhirnya dapat bangkit kembali.

Pada tanggal 14 Juli 1789 segerombolan manusia menyerbu Basteel (Sebuah penjara di Paris). Ini merupakan pertanda kebangkitan perlawanan terhadap penguasa Perancis yang menimbulkan berbagai gerakan massa disegala penjuru Perancis. Masyarakat dan penduduk dari berbagai penjuru desa dan kota meluapkan kebencian mereka terhadap sistem dan bentuk kepemimpinan kerajaan. Pada tahun 1793 kebencian dan amarah warga Perancis baru mulai reda. Pada tanggal 21 Januari pada tahun yang sama Raja Louis XVI dipenggal kepalanya dihadapan massa, memberikan tanda berakhirnya sebuah kepemimpinan kerajaan dan lahirnya perluasan wilayah Mason di Eropah!

Dengan tumbangnya kerajaan bagaikan tidak ada lagi penghalang bagi para Mason dan penguasaan penuh terhadap Perancis. Apa yang terjadi selanjutnya telah menempatkan para Mason pada sebuah dilemma yang sangat serius. Pergantian dan perubahan ini tidak sesuai dengan rencana awal para Mason.Seorang prajurit muda bernama Napoleon Bonaparte mulai bangkit dalam memimpin Perancis menuju pertumpahan darah untuk berperang dengan Eropah, bukannya mengikuti irama gendang para Mason, Napoleon menyatakan dirinya sebagai Penguasa Perancis. Napoleon akhirnya dipaksa untuk meletakan kekuasaannya pada tahun 1814 yang kemudian dipenjara di Pulau Korsika. Sangat disayangkan bagi para Mason, Napoleon tiba kembali di Paris pada tahun 1815, kembali membangun kekuatan yang siap untuk melakukan peperangan baru di Eropah. Para Mason menghadapi masalah baru dihadapan mereka. Kerajaan Inggris dengan sekutunya para Mason tidak dapat terus berperang melawan Napoleon tanpa harus menanggung potensi akan kebangkrutan.

Ketika kemua haparan hampir pudar, maka datanglah sumber dukungan dari Nathan Rothschild. Nathan (Seorang Yahudi) adalah seorang kepala keluarga banker. Berhubung keluarganya adalah Yahudi, maka dia tidak punya pilihan untuk bekerja secara gelap. Dia menuntut pengakuan keberadaan Yahudi disamakan dengan warga Eropah untuk sebagai pelaku usaha dan bisnis secara terbuka. Seringkali dia didapatkan seorang diri pada saat melaksanakan tugas dan kewajibannya. Jika para Mason menolak pendanaannya dia dapat saja langsung berbalik kepada Napoleon. Para Mason dalam posisinya yang terpojok, tidak memiliki pilihan melainkan untuk menerima pinjaman dari Rothschild.

“Awal pertalian antara Para Mason dan Yahudi ini berlanjut hingga ke-era moderen saat ini, masing-masing pihak memiliki tujuan yang serupa dan berbagi dalam meraih manfaat dan keuntungan”

“Pada mulanya kaum Yahudilah yang mengajari ilmu hitam kepada para Knight Temples di Yerusalem”.

Di tahun 1815 pasukan Kerajaan Inggris, Belanda dan Rusia mendarat di Waterloo dan Belgia, dimana mereka berhadapan dengan pasukan Napoleon yang akhirnya mengalahkannya. Napoleon ditangkap dan sejak itu tidak pernah lagi diizinkan untuk kembali. Sekalipun sejarah mencatat sedikit tentang keterlibatan para Mason dalam perjuangan, karena memang para Mason sengaja menunjukan jati diri mereka pada saat itu. Maka pada akhirnya Perancis berada dalam kekuasaan Mason.

Pada tahun 1904 Marc Vadourasambo seorang Free Mason membuat sebuah pernyataan dihadapan umum:“Free Mason telah bekerja secara terselubung, namun kukuh pada tujuan dalam mempersiapkan sebuah revolusi yang selanjutnya menyatukan kita dengan Free Mason dalam bentuk sebuah perjanjian dengan hanya satu bentuk penawaran yaitu sebuah revolusi dan tepuk tangan yang saya terima dari sisi kiri saya telah membuktikan kepada anda semua dimana kalian semua telah mengakui bersama saya bahwa para Mason lah yang telah membuat revolusi Perancis”.

Ketika apa yang “menjadi julukan” penemu Amerika berlabuh di Plymouth Rock, para penumpang bukan hanya mereka yang ingin memisahkan diri dari Inggris namun juga terdapat para penumpang yang memiliki agenda rahasia, Para Free Mason. Ketidak adilan bagi para penemu Amerika yang mereka perjuangkan dan lari dari Eropah, juga mereka temukan di lahan baru ini, dalam bentuk kekuasaan kerajaan Inggris. Untuk dapat memperoleh kekuasaan mutlak dari sebuah wilayah, para mason harus melakukan hal yang serupa sebagai mana mereka mengusai Perancis. Emosi masyarakat mereka kuasai dan mereka ubah menjadi sebuah amarah dan sebagai mana telah terjadi di Perancis, amarah itu mereka jadikan menjadisebuah perang. Namun kali ini kesalahan yang pernah mereka lakukan tidak terulang kembali. Sekalipun para Mason telah memanipulasi kerajaan Inggris, perang kemerdekaan Amerika merupakan sebuah tindakan yang perlu dilaksanakan dan mereka yang terlibat dalam perang ini adalah harga yang harus dibayar oleh para Mason guna meraih impian mereka.
readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

... kambing ....


Di sebuah ruangan kelas salah satu perguruan tinggi:
Jam 7.56 pagi hari.

Ruang kelas berisi 40 orang mahasiswa. Mata kuliah Agama Islam.
Satu orang dosen mata kuliah. Satu buah meja dosen. Satu buah kursi dosen. Satu buah papan tulis. Satu buah LCD. Satu buah layar LCD. (yang lain silahkan anda bayangkan dan anda diskripsikan sendiri sesuai keinginan anda. Pokoknya bayangkan saja itu adalah ruang kuliah bukan kandang sapi, dan anda harus setuju)

Dosen berkata: “duhai para mahasiswaku yang berbahagia, sesungguhnya agama kita yaitu Islam ini adalah agama yang sempurna, agama yang damai dan agama yang rahmatan lil ala……………”

Mahasiswa meneruskan “Miiiiiiiiiiiiiiiiiinn………”

Dosen lagi: “maka dari itu jika ada orang yang berlaku terror dan intimidasi dengan mengatasnamakan Islam sungguh orang itu telah keluar dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Gimana, setuju?”

32 mahasiswa menjawab: “setujuuuuuuuuuu…………”

2 mahasiswa mnjawab: “setuju paaaaaaakkkk….”

1 mahasiswa menjawab: “setubuuuuuuuuuuuhhh… alias setuju buahnget pakk”

5 mahasiswa tidak menjawab dengan rincian sebagai berikut: 2 orang sedang bercumbu rayu di pojok kelas dan 3 sisanya tidur. (nb. Yang tidur ngiler 1 orang)

Dosen ngomong lagi: “dan beruntunglah kita semua, kita saat ini tinggal di sebuah negara yang memiliki iklim kondusif, sehingga kita saat ini masih dapat memeluk Islam dengan bebas, kita masih bisa melaksanakan syariat-syariat Islam, betul kan?”

39 mahasiswa diam. 1 mahasiswa menjawab: “tapi gak semua syariat Islam bisa dijalankan to pak???”
(untuk selanjutnya mahasiswa disingkat M, dosen disingkat D)

D: “yaa… memang betul, tapi memang negara kita bukan negara Islam to!!”

M: “yaa tapi kan bapak tahu syariat Islam harus dijalankan oleh semua umatnya tanpa pandang bulu to pak, dan Islam pun bertentangan dengan demokrasi dan saya kurang setuju jika bapak mengatakan saat ini kita telah memeluk Islam dengan bebas”

D: “iya bapak tahu semua itu, bapak tahu, tapi bukankah dalam demokrasi itu banyak yang positif?. Kamu tahu dalam demokrasi itu kan ada yang namanya musyawarah, nah dalam Islam itu juga ada yang namanya musyawarah dan itu pernah kok dicontohkan Rasul. Lagipula demokrasi yang ada di Indonesia bisa disebut dengan teodemokrasi yaitu demokrasi yang masih mengikuti nilai-nilai ketuhanan. Jadi menurut bapak itu ga masalah”

M: “oooo begitu pak ya? Gini ja, bapak tau kambing pak?”

D: “iya bapak tau kambing, terus kenapa sama kambing?”

M: “kambing itu juga ada positifnya lo pak. Kambing bisa ngobatin darah rendah, rasanya enak lagi, kambing juga punya dua kaki dan kepala to pak, sama dengan bapak yang punya kaki dan kepala. Terus apa bapak mau bapak disamakan dengan kambing???”

D: “maksud kamu apa?”

M: “maksud saya pak, bapak tidak bisa dong menyamakan demokrasi dengan Islam itu karena ada satu point yang sama, kalo memang semua bisa disamakan hanya karena satu point yang sama, berarti ya bapak sama aja sama kambing, sama-sama punya kaki dan kepala. Dan satu lagi pak namanya kambing dipakein baju tetap aja itu kambing, ga bakal berubah jadi manusia. Begitu juga yang namanya demokrasi dipakein embel-embel teo atau agama tetap aja itu sistem rusak ga bakal berubah jadi sistem yang baik berarti kambing yang pake baju tadi bisa juga berubah jadi orang??? Yaaa bapak kawin aja sama kambing yang pake baju”

D: “kamu bapak diam-diamkan semakin kurang ajar aja, kalo kamu ga suka dengan bapak silahkan kamu keluar dari ruangan ini dan tidak usah lagi ikut mata kuliah saya”

M: “ya udah pak, ga masalah kok, lagian siapa yang mau diajar sama kambing?? He he he”

(nb. Sambil berjalan meninggalkan ruang kuliah)
Pletak, pletak, dua batang kapur bterbangan kea rah mahasiswa tersebut.

## Asta La Victoria Siempre –republik mafioso-
readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

FILM INDIA ‘3 IDIOTS’ : Renungan dan Pelajaran Dalam Dunia Pendidikan


Film India 3 Idiots diproduseri oleh Vidhu Vinod Chopra, menceritakan tentang tiga mahasiswa yang kuliah di Imperial of Engineering (ICE) yakni Rachhondas Shamaldas Chanchad (Racho), Farhan Qureshi (Farhan) dan Raju Rastogi (Raju). Dikampus mereka selalu dipanggil idiot. Rector ICE, Dr. Viru Shastrabhuddhi (Mr Virus) sangat tegas terhadap mahasiswanya, ia berani tidak meluluskan bahkan sampai mengeluarkan mahasiswa yang menentang dan tidak sesuai keinginannya, akibatnya mereka yang tidak tahan dengan perlakuan Mr Virus lebih memilih bunuh diri daripada membuat orang tua sedih karena melihat anaknya tidak lulus seperti yang dilakukan oleh Joy Loba. Raju juga hampir mati seperti Joy Loba. Raju anak orang miskin, ia ingin cepat bekerja untuk memperbaiki kehidupan keluarganya. Raju memiliki sifat penakut jadi dia banyak berdoa. Racho berhasil merubah cara berfikir Raju sehingga ia bisa lulus dan bekerja di perusahaan. Sedangkan Farhan, ia dipaksa orang tuanya jadi insinyur padahal minat dan jiwanya ada pada photo hewan, ia ingin menjadi wild life photographer, Racho berhasil memotivasi Farhan untuk mewujudkan keinginannya dan orang tua Farhan mengijinkannya menjadi photographer, ia menjadi asisten Andre Istan (wild life photographer) di Brazil. Kemudian Racho, ia seorang anak yang cerdas, ia ke kampus untuk belajar bukan untuk ijazah, ia mencintai dan menjiwai mesin karena itu ia berhasil menjadi lulusan terbaik. Sebenarnya ia anak yatim piatu yang biasa dipanggil Chote. Ia disekolahkan oleh Bapaknya Racho dengan tujuan ijazah yang ia peroleh untuk dan atas nama anaknya. Setelah sekian tahun, Phunsuk Wangdu alias Racho menjadi ilmuan besar yang memiliki 400 hak paten. Ia berhasil mengalahkan Chathur, mahasiswa pintar tapi sombong yang belajar hanya menghafal tanpa memahami. Itulah cerita singkat film 3 Idiots, banyak pelajaran berharga yang bisa diambil sekaligus sebagai renungan bagi orang tua, para pendidik (guru dan dosen), para siswa dan mahasiswa. Berikut point pentingnya.
Bersaing atau mati. Inilah gambaran pendidikan di negeri kita, para siswa diajarkan untuk bersaing dengan teman-temannya dalam hal nilai ataupun kelulusan sehingga tidak aneh ada siswa yang bunuh diri sebelum Ujian Nasional (UN) berlangsung karena takut bersaing dengan temannya atau ada yang bunuh diri setelah mengetahui tidak lulus karena telah kalah bersaing dengan temannya. Mereka lebih mudah menghadapi kematian daripada kegagalan.
Tekanan dalam belajar. Orang tua menginginkan anaknya mendapat nilai tinggi di sekolah tanpa memperdulikan anaknya sanggup atau tidak memperoleh nilai tinggi tersebut. Ketika nilai anaknya rendah, tidak naik kelas bahkan tidak lulus, orang tua marah pada mereka, padahal jiwa anka sangat tertekan. Guru dan kepala sekolah menginginkan semua siswa lulus ujian walaupun dengan cara yang curang baik oleh siswa itu sendiri maupun difasilitasi oleh sekolah. Semua siswa ditekan mereka harus lulus, mereka harus belajar dengan sungguh-sungguh karena akan sangat memalukan dan dimarahi apabila tidak lulus.
Bagaimana memperoleh nilai bagus, bukan memperoleh pengetahuan. Baik siswa maupun mahasiswa, mereka diajarkan memperoleh nilai bagus dengan menghafal semua isi buku tanpa memahami dan menjadikannya pengetahuan yang akan diterapkan dalam kehidupan. Akibatnya ketika mereka naik ketingkatan selanjutnya, mereka lupa dengan materi yang diajarkan oleh guru atau dosen sebelumnya karena dalam frame berfikir mereka, ketika mereka sudah mendapatkan nilai tinggi maka selesailah pelajaran/perkuliahan. Inilah bukti apa yang mereka pelajari tidak menjadi pengetahuan tapi lebih kepada value oriented yakni nilai yang tinggi. Mereka berusaha keras mendapatkan nilai yang mereka inginkan tanpa peduli mereka paham atau tidak, bisa mengamalkannya atau tidak.
Diberi waktu belajar, maka akan terlihat siapa yang cepat dan siapa yang lambat. Siswa bercepat-cepat dalam menjawab pertanyaan guru dengan waktu yang sudah ditentukan, terjadi kompetensi antar siswa sehingga terlihat siapa yang cepat dan siapa yang lambat. Mahasiswa juga berkompetensi dalam waktu yang sudah ditentukan, akan terlihat siapa yang cepat lulus dan siapa yang lambat lulus sehingga banyak mahasiswa yang memilih study oriented dan value oriented.
Pengumuman hasil tes memperlihatkan kelemahan seseorang dimuka umum. Bagi sebagian siswa atau mahasiswa ketika melihat pengumuman hasil tes bisa termotivasi untuk menjadi lebih baik, tapi ada juga yang down setelah melihat nilainya rendah. Dari pengumuman hasil tersebut juga bisa dilihat nilai teman, apakah lebih tinggi atau lebih rendah. Tapi ketika melihatnya bisa saja muncul perasaan ‘jika temanmu gagal kau akan merasa sedih tapi jika temanmu menjadi yang terbaik kau akan lebih sedih’. Oleh karena itu, untuk menghindari kemungkinan down, malu ataupun sedih alangkah baiknya nilai tidak diumumkan di depan umum, kalaupun diumumkan tidak perlu ditulis nama cukup nomor tes, induk atau sejenisnya.
Sekolah untuk belajar bukan sekedar untuk ijazah. Kuliah untuk belajar bukan sekedar untuk titel. Sebagian orang berfikir untuk memperoleh pekerjaan yang layak perlu ijazah sehingga mereka harus sekolah dan kuliah, setelah lulus mereka menggunakan ijazahnya untuk bekerja ditempat yang mereka inginkan bahkan tanpa melihat lagi apakah pekerjaan tersebut sesuai bidang keilmuan mereka atau tidak. Ada orang yang bekerja tidak sesuai dengan keilmuan ataupun titelnya  seperti seorang sarjana hokum menjadi guru, seorang sarjana kehutanan bekerja dikantor, dsb. Itulah bukti mereka kuliah bukan untuk memperoleh ilmu tapi lebih kepada untuk memperoleh ijazah dan titel.  Bagi mereka yang sungguh-sungguh belajar kelak akan menjadi orang yang sukses.
Mencintai materi pelajaran/perkuliahan dan menjiwainya. Dengan mencintai dan menjiwai materi pelajaran/perkuliahan maka apapun yang dipelajari akan menjadi pengetahuan dan bisa diterapkan dalam kehidupan.
Jalani pekerjaan yang dikuasai.  Orang tua diharapkan tidak memaksakan keinginannya kepada anaknya, biarkan mereka memilih sendiri pekerjaan yang mereka inginkan dna kuasai agar mereka bahagia. Jangan sampai ada anak yang terpaksa bekerja yang bukan jiwa atau minatnya. Biarkan anak memilih apa yang terbaik untuk dirinya selama masih dalam koridor kebaikan.
Berhasil karena kemampuan sendiri. Tanamkan kejujuran pada setiap siswa/mahasiswa. Kadang masih ditemukan ada siswa/mahasiswa yang curhat saat ujian demi nilai, seharusnya mereka belajar dengan sungguh-sungguh sehingga mereka bisa berhasil karena kemampuan mereka sendiri buka bantuan buku, catatan kecil atau teman di samping.

Kesimpulan film 3 Idiots adalah sekolah/kuliah tidak untuk ijazah tapi untuk ilmu dan jika ingin bekerja carilah yang sesuai dengan jiwa atau bakat bukan karena kehendak orang tua. Kejarlah kesempurnaan maka kesuksesan akan mendatangi. Bila menghadapi sesuatu berfikirlah semuanya akan baik-baik saja (all iz wwell). Kalimat terakhir film tersebut ‘anak-anak! Berfikirlah efisien maka kesuksesan ada dibelakangmu’.
Sistem kapitalis-sekular dengan asas manfaat ataupun materi yang menimbulkan berbagai persoalan pendidikan tersebut. Sistem yang memaksa orang ketika ingin bekerja harus memiliki ijazah dan ijazah hanya akan diperoleh dengan sekolah. Ketika ingin bekerja pada pekerjaan yang layak salah satunya PNS maka mereka harus sarjana. Sementara biaya pendidikan begitu tinggi dan kalaupun bisa kuliah bukan untuk belajar (memperoleh pengetahuan) tapi sebatas untuk ijazah dan titel. Ditambah lagi, standar kelulusan hanya dilihat dari angka-angka hasil tes saja, bukan dari kualitas kepribadian atau pengamalannya dalam kehidupan.
Berbeda dengan sistem pendidikan Islam, peserta didik benar-benar memahami ilmu yang diterimanya karena kesadaran akan kewajiban menuntut ilmu karena Allah SWT. Dalam pendidikan Islam, standar kelulusan tidak hanya dilihat dari angka-angka hasil tes saja tapi juga tingkat kualitas kepribadian Islamnya. Adanya negara Khilafah yang menerapkan sistem Islam termasuk pendidikan Islam yang akan menjaga aqidah ummat, menjamin setiap orang dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya tanpa dipungut biaya (gratis) dan mewujudkan kesejahteraan ummat. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Beda Suka dan Cinta

Dihadapan orang yang kau cintai, 
musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah.
Dihadapan orang yang kau sukai,
musim dingin tetap saja musim dingin hanya suasananya lebih indah sedikit.
Dihadapan orang yang kau cintai, 
jantungmu tiba tiba berdebar lebih cepat. 
Dihadapan orang yang kau sukai, 
kau hanya merasa senang dan gembira saja.
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai, 
matamu berkaca-kaca. 
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai, 
engkau hanya tersenyum saja.
Dihadapan orang yang kau cintai, 
kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam. 
Dihadapan orang yang kau sukai, 
kata kata hanya keluar dari pikiran saja.
Jika orang yang kau cintai menangis, 
engkaupun akan ikut menangis disisinya. 
Jika orang yang kau sukai menangis, 
engkau hanya menghibur saja.


Perasaan cinta itu dimulai dari mata, 

sedangkan rasa suka dimulai dari telinga.
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang, 
cukup dengan menutup telinga. 


Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai, 
cinta itu berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.
readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Demokrasi Tersandera?

Menyingkap Misteri 2¼ Abad (1783 M – sekarang)
“Masyarakat ini mewakili cita-cita umat manusia dan akhir tujuan mereka!” Demikian kata presiden legendaris Amerika Serikat, Abraham Lincoln (1860-1865), tentang negaranya. Kiranya kita sangat bisa memahami mengapa sang presiden berbicara demikian. Amerika Serikat saat itu menjadi perbincangan dunia karena merupakan negara tempat seluruh ide revolusi yang meledak di Eropa pada akhir abad XVIII M diimplementasikan.

Pada tahun 1783, ketika masyarakat Eropa muak pada monarki, sikap kesewenang-wenangan raja dan gereja, serta gaya hidup manja kaum bangsawan, pantai timur benua Amerika malah menampung seluruh ide kemuakan itu dan mewujudkannya dalam sebuah negara baru yang mewakili cita-cita mereka. Kepala negara dari negara baru itu bukan lagi raja, yang mewarisi kekuasaan turun temurun, tetapi presiden, yang dipilih rakyat secara langsung. Kedaulatan di negeri itu bukan lagi di tangan raja dan gereja, yang merasa mengemban amanah Tuhan tapi kenyataannya hanya menggunakan kedaulatan itu untuk menindas rakyat, tapi dinyatakan sebagai milik rakyat sendiri. Aktivitas ekonomi dinyatakan sebagai hak seluruh rakyat, bukan lagi dominasi tuan tanah dan bangsawan sebagaimana pada masa sebelumnya. Negara Amerika Serikat adalah milik seluruh rakyat. Itulah gambaran dari sebuah negara yang diangankan masyarakat dunia Barat saat itu, yang kemudian dibanggakan oleh Presiden Abraham Lincoln, beberapa puluh tahun setelah negara itu berdiri. Negara demokrasi. Begitulah orang menyebutnya. “Democracy is from the people, by the people, and for the people!” begitulah kata Abraham Lincoln yang sampai kini terus dikenang, tak hanya oleh rakyat Amerika Serikat, tapi bahkan oleh dunia.

Hanyalah Prancis, dengan Revolusi Prancis-nya, yang berhasil “menyaingi” Amerika Serikat dalam demokrasinya. Itupun munculnya “belang-belang”, berselang-seling dengan kediktatoran. Prancis larut dalam perang demi perang yang mengembalikan negeri itu ke dalam penindasan dan pemerintahan otoriter. Praktis Amerika Serikat-lah yang saat itu menjadi tatapan mata dunia. Amerika Serikat adalah “dunia baru”, tempat seluruh impian bisa digapai, karena di sana rakyat berdaulat. Seperti itulah gambaran negeri itu di abad XIX M. Sangat wajar kalau banyak penduduk Eropa, dari berbagai bangsa, berbondong-bondong menuju tanah impian itu. Dan setelah Amerika Serikat diakui sebagai “teladan dunia”, pelan tapi pasti negara-negara Eropa bergeser dari kerajaan menuju demokrasi.

Negara demokrasi. Itu pulalah yang menjadi teriakan dalam reformasi di Indonesia tahun 1998. Sebelumnya, Indonesia dianggap sebagai “kerajaan feodal Jawa” dibawah pemerintahan “Raja Soeharto”. Maka yang terjadi di tahun itu hanyalah ulangan apa yang terjadi di Amerika dan Eropa dua abad sebelumnya. Dan itu pula yang melanda seluruh Eropa Timur dan Rusia pada waktu sekitar jatuhnya Uni Soviet. Rakyat menghendaki bergeser dari negara totaliter otoritarian menuju negara demokrasi. Negara-negara berkembang, seperti India dan Philipina, saat ini juga dikenal sebagai negara demokrasi.

Demokrasi. Demokrasi. Demokrasi…. Itulah kata yang terus bergaung selama dua seperempat abad ini di berbagai belahan dunia. Namun, bagaimana keadaan berbagai negeri demokrasi saat ini? Marilah kita berkeliling, mengunjungi negeri-negeri tempat demokrasi diimplementasikan. Selanjutnya kita cermati, apakah negeri-negeri itu menjadi permata dunia, yang lebih maju, adil, dan beradab?
***

Kita awali dari sang perintis demokrasi, Amerika Serikat (AS). Apakah AS sekarang menjadi negeri yang semakin bisa dibanggakan? Apakah AS sekarang merupakan gambaran “negara ideal”? Di negeri ini tampaknya memang ada kebanggaan tersendiri karena AS menjadi simbol kemajuan dunia. Negara Amerika Serikat sekarang telah menjadi pusat percaturan politik, ekonomi, dan teknologi dunia. Markas PBB bahkan berada di New York. Semua berangkat dari berbagai kejadian sepanjang abad XX. Setelah kerajaan-kerajaan di Eropa tercerai berai karena Perang Dunia I, sementara negara-negara diktator hancur dalam Perang Dunia II, sedangkan negara-negara totaliter komunis berguguran seputar dekade 90-an, Amerika Serikat justru melesat menjadi adikuasa tunggal. Bahkan saat ini, Kongres, tempat rakyat AS biasa menyalurkan aspirasi mereka, telah “sangat biasa” menentukan kebijakan PBB.

Namun, apakah itu berarti semua idealisme yang menjadi impian saat AS berdiri telah berhasil dicapai? Yang terjadi ternyata sebaliknya.

Ternyata bidang politik dan ekonomi di negeri itu tak mencerminkan kedaulatan rakyat tapi “kedaulatan konglomerat”. Jabatan-jabatan politik, baik tingkat pusat, provinsi, maupun distrik, baik legislatif maupun eksekutif, bukan lagi terasa sebagai hak seluruh rakyat tapi hak para konglomerat atau pihak yang mendapatkan dukungan dari kalangan superkaya itu. Memang rakyat berpartisipasi dalam pemilu, tapi itu karena mereka terpaksa harus memilih diantara dua pilihan, yaitu calon dari Partai Republik dan calon dari Partai Demokrat. Sementara seluruh calon dari kedua partai itu untuk bisa maju harus mendapatkan dukungan finansial yang sangat besar dari para konglomerat. Faktanya, rakyat seringkali tertipu. Mereka memilih berdasar informasi media (milik kongkomerat pendukung kandidat) yang sangat memuji kandidat, tapi setelah para kandidat itu terpilih ternyata kualitas mereka tak sebaik yang diberitakan. Mereka kagum pada kepedulian Jimmy Carter pada hak asasi manusia, tapi yang mereka dapati hanyalah seorang presiden yang cengeng dalam politik luar negerinya. Mereka muak dan akhirnya memilih Ronald Reagan tapi ternyata dia hanyalah seorang yang membuat utang negerinya membengkak tiga kali lipat. Di awal abad XXI ini, presiden mereka, George W. Bush, adalah “Hitler abad XXI”, manusia tanpa empati.

Impian untuk merasa bebas dan berdaulat ternyata juga tak sebagaimana harapan. Media, milik konglomerat, yang mendominasi berita dan informasi, tak sekedar mendikte rakyat dalam masalah politik dan ekonomi, tapi juga menjadikan rakyat sebagai objek komersial. Televisi dipenuhi dengan tayangan hiburan yang merusak, gaya hidup mewah, dan kekerasan. Sangat wajar jika kondisi moral generasi kian rusak. Sementara di saat yang sama, para tokoh agama semakin kurang diperhatikan, kecuali mereka yang bersedia berkompromi dengan media walau dengan bayaran hilangnya idealisme mereka.

Gambaran moralitas masyarakat AS dewasa ini ternyata demikian mencengangkan. 93% berpendapat bahwa tak seorang pun yang menjadikan satu ketentuan pegangan moral dalam hidup mereka. 84 % menyatakan bersedia menentang ajaran agama mereka dan 81 %-nya bahkan benar-benar telah menentangnya. 38 % di antara mereka merasa membaur dengan orang-orang yang tak mereka sukai. 29 % sering mempunyai perasaan bahwa mereka penjahat, penipu, dan munafik. 91 % menyatakan bahwa berbohong telah menjadi perilaku dan kebiasaan hidup mereka. 20 % menyatakan bahwa mereka tidak meninggalkan berbohong meski hanya satu hari. 31 % orang yang telah berumah tangga tetap melakukan hubungan seksual dengan pasangan lain. 62 % berpendirian bahwa hubungan seksual dengan pasangan lain sah-sah saja dilakukan. 39 % menyatakan bahwa mereka pernah melakukan kejahatan yang berbeda selama hidup mereka.

Inilah AS, sang perintis demokrasi. Bagaimana dengan Eropa Barat, yang terinspirasi oleh Revolusi Amerika dan Revolusi Prancis? Eropa Barat terdiri dari negara-negara maju. Proses-proses demokrasi juga selalu dilangsungkan. Parlemen leluasa memperingatkan presiden atau perdana menteri, sebagaimana ditekankan dalam demokrasi, juga hal biasa. Namun, “kedaulatan orang kaya” tampaknya juga cukup menggejala. Kesenjangan sosial dan rusaknya moralitas juga hal biasa. Perceraian dan orang tua tunggal lebih dari 50 % di Swedia. Bentrokan etnis dan rasialisme cukup terasa di Prancis dan Italia. Homoseks sangat biasa bahkan dilegalkan di Belanda. Gereja-gereja ditinggal umatnya hampir di seluruh Eropa Barat. Orang-orang jompo diserahkan oleh anaknya ke panti jompo menjadi pemandangan yang lumrah di Eropa.

Bagaimana dengan belahan dunia lainnya? Di Eropa Timur, partai-partai yang mengusung demokrasi dan menjatuhkan komunisme dulu mulai diragukan. Ini karena hasil karya mereka adalah “kedaulatan orang kaya baru”. Kesenjangan sosial dan kerusakan moral semakin membudaya. Di India, Pakistan, Bangladesh, dan Philipina, jurang pemisah kaya miskin demikian tinggi. Syarat potensial jadi pemimpin di negara-negara itu juga cukup aneh, yaitu bapak atau suaminya terbunuh. Lihat saja: Benazir Bhutto, Begum Khaleda Zia, Hassina Washeed, Cory Aquino, atau Sonia Gandhi.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita tahu sendiri bagaimana negeri ini. Betapa jarang kita membaca headline surat kabar dengan gembira, kecuali menghibur diri dengan rehat atau komentar pojok.
Itulah fakta mayoritas dari peta dunia sekarang, negeri-negeri penganut demokrasi: aneka ragam problem.

Tentu patut kita bertanya-tanya: Mengapa yang terjadi pada dunia saat ini tak seindah “kampanye” yang dilakukan oleh Sang Demokrasi dua seperempat abad silam? Mengapa kenyataannya tak seindah “janji-janji”-nya?
***

Salahkah Mr. Demokrasi…? Tunggu dulu!
Kiranya kita harus jeli untuk tidak terburu menyalahkan Demokrasi. Satu hal yang perlu kita ketahui, ketika Demokrasi tampil sebagai “pendekar penyelamat dunia” di akhir abad XVIII M lalu, ia tidak sendirian. Masih ada beberapa “pendekar” lain yang tampil, yaitu Sekularisme, Liberalisme, dan Kapitalisme. Padahal, selama ini banyak pihak yang mengatakan bahwa ketiga isme inilah yang telah mengacak-acak dunia. Sekularisme dianggap telah menjadikan lemahnya peran agama dan terjadinya kerusakan moral. Liberalisme dinyatakan menjadikan semua orang ingin bebas, berani menentang agama, dan tak peduli pada nilai-nilai. Kapitalisme dikatakan menjadikan kesenjangan sosial dan kedaulatan konglomerat. Walau begitu, tampaknya harus kita akui: selama ini Demokrasi memerintah dunia dengan “berkoalisi” dengan ketiga “pendekar” itu.9 Padahal, bukankah dengan itu ia harus rela memahami “pandangan” mereka, mentoleransi “sikap” mereka, bahkan membiarkan “sepak terjang” mereka dalam banyak hal?

Yang sangat penting kita cermati, selama dua seperempat abad ini tampaknya secara umum diakui bahwa Sang Demokrasi-lah yang menjadi “pemimpin” di dunia, bukannya ketiga “sosok” lainnya tadi. Terbukti yang paling sering disebut media dunia adalah negara demokrasi, bukannya negara sekular, negara liberal, atau negara kapitalis. AS juga lebih sering menyebut diri sebagai negara pengemban demokrasi, bukan lainnya. Hanya saja, dengan fakta ini, kiranya sangat wajar kalau ada pihak yang menjuluki Demokrasi sebagai “pemimpin” yang peragu dan tidak tegas. Alasannya, bukankah warna dunia selama dua seperempat abad ini lebih diwarnai kiprah Sekularisme, Liberalisme dan Kapitalisme? Bukankah seringkali muncul kritik bahwa negara atau masyarakat terlalu sekular, liberal, dan kapitalis, tapi kurang demokratis? Artinya, bukankah Demokrasi kalah peran dibanding para “pendamping”-nya? Memahami hal ini, tentu kita layak bertanya-tanya:

Bagaimana “peta politik” dunia selama dua seperempat abad ini sebenarnya? Benarkah ketiga “sosok” itu yang merusak dunia? Apakah Demokrasi “bersahabat dekat” dengan mereka? Atau Demokrasi mungkin “bertempur” dengan mereka tapi kalah? Atau Demokrasi berusaha bertindak “arif” dengan memberikan “jalan tengah” tapi gagal? Atau jangan-jangan Demokrasi menjadi korban atas sikap akomodatifnya sendiri? Atau Demokrasi kebingungan karena selalu kalah cepat? Apakah Demokrasi harus melakukan “reshufle” kabinet isme-isme? Apakah kita harus membebaskan Demokrasi dari mereka? Kalau iya, lantas Demokrasi harus bersekutu dengan siapa? Apakah kita harus menciptakan dan mendukung “koalisi” baru?

Atau jangan-jangan Demokrasi salah, sehingga kita dengan berat hati harus memberinya peringatan? Namun, bukankah Demokrasi pahlawan kita? Tapi, bagaimana dengan sebagian pihak yang mempertanyakan kepahlawanannya? Bagaimana pula dengan kalangan yang bahkan ingin melengserkan Demokrasi?

Apa yang sebenarnya terjadi? Dan apa yang seharusnya kita –-penduduk dunia— lakukan?

Faktanya, Demokrasi ternyata memang pro sekularisme, liberalisme, dan kapitalisme. Bahkan alat “mereka bertiga”. Ini karena beberapa hal:

Sejarah tegaknya sekularisme, liberalisme, kapitalisme, dan demokrasi pada dua revolusi (AS dan Prancis) bersifat satu kesatuan untuk melawan monarki absolut dan kekuasaan gereja. Kata kedaulatan rakyat saat itu sebagai lawan dari kedaulatan penguasa dan kedaulatan Tuhan.
Demokrasi menuntut adanya kebebasan berpendapat, kebebasan berperilaku/ berekspresi, dan kebebasan beragama, dan kebebasan kepemilikan. Ini adalah “prinsip-prinsip mutlak” tanpa ada nilai lain di atasnya. Ini akan membuat sekularisme, liberalisme, dan kapitalisme otomatis akan mendapat lahan subur.

Demokrasi mengajarkan pembangunan nilai dan aturan dari suara mayoritas. Ini akan membuat lemahnya agama karena suara ulama tidak lebih dihargai dibanding penjudi. Sebaliknya terjadi dominasi kapitalisme karena para kapitalislah yang otomatis menguasai suara.
readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Fathimah Az-Zahra'

betapa mulianya Fathimah
karena dalam dirinya terbit dari tiga arah
Putri siapakah dia; istri siapakah dia; dan ibu siapakah dia?
tidak ada yang lebih mendekati kemuliaan ayahnya
selain dirinya
dia adalah putri kesayangan sang makhluk pilihan
dan sang penebar hidayah bagi mereka yang menghendakinya
ayahnya adalah rahmat bagi seluruh alam
dan idola hidup di dunia
ayahnya telah membangkitkan jiwa-jiwa yang tertidur lelap
dengan kekuatan spiritualnya
seolah dia menghidupkan kembali
jiwa-jiwa yang tertidur setelah matinya
dengan memulai sejarah kehidupan baru
laiknya pengantin yang memulai kehidupan barunya
suami Fathimah
adalah orang yang disinggung dalam surat "Hal ataa"
dialah mahkota yang lebih cemerlang
daripada sinar mentari di waktu Dhuha
dialah sang pemberani yang berkat pertlongan Allah
mampu menyngkirkan segala kebatilan dan kedzaliman
dengan pedangnya
rumahnya adalah gubuk dan harta kekayaannya
adalah pedang yang selalu disandangnya
namun dalam keluarga Fathimah
tumbuh dua generasi cemerlang hasil didikan dirinya
yakni kedua anaknya
sang pemimpin para mujahid dan sang perekat persatuan umat
Fathimah adalah figur contoh bagi para ibu
dan teladan dalam segala kemuliaan hidup
Hasanlah yang mengembalikan persatuan umat
setelah sebelumnya mengalami perpecahan
Hasan pernah menyingkir dari pengikutnya
sedang Husain termasuk orang-orang yang shalih dan mulia
yang sangat bersih dan murah hati tabiatnya
readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS