Wafey Nafla. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Suamimu, Surgamu dan Nerakamu

KEBAHAGIAAN hidup berumah tangga adalah anugerah Allah Subhanahu Wata’ala yang diberikan kepada hamba-Nya setelah nikmat Islam dan iman. Cinta dan kasih sayang serta ketentraman hidup berumahtangga adalah dambaan idaman bagi setiap pasangan suami istri.

Diantara pilar terpenting bagi kebahagiaan hidup berumah tangga adalah seorang istri. Yaitu bila ia sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam;

ِإِنَّمَا الدُّنْياَ مَتَاعٌ، وَلَيْسَ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنَ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَة

 “Hanyalah dunia ini semata kesenangan. Dan tidak ada kesenangan dunia yang lebih utama daripada seorang istri yang sholihah.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam suatu riwayat, Nabi Dawud alaihissalam pernah berkata; seorang istri yang jelek akhlak dan agamanya,  maka bagi suaminya ia bagaikan beban berat yang dipikul oleh seorang lelaki tua renta. Sedangkan seorang istri yang sholihah ia ibarat mahkota yang terbuat dari emas yang menyenangkan bila dipandang mata.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, diceritakan oleh sahabat Hushain bin Mihshan bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bertanya kepadanya: “Apakah kamu mempunyai suami?” ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi: “Bagaimanakah sikapmu terhadapnya?” ia menjawab, “Saya tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup.” Beliau bersabda:

فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Perhatikanlah posisimu terhadapnya. Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu terdapat pada (sikapmu terhadap) suamimu.” (HR. Ahmad: 18233)

Dalam hadits yang mulia diatas ditegaskan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tentang sangat agungnya kedudukan suami dihadapan istrinya. Bahwa suami adalah Surga atau neraka istrinya. Artinya bila seorang istri berbakti kepada suaminya maka Surga Allah akan selalu menantinya. Sebaliknya bila seorang istri durhaka kepada suaminya, maka nerakalah ancamannya. Maka sangat mudah bagi seorang wanita untuk mendapat surga dan juga sangat mudah pula bagi seorang wanita untuk mendapat neraka.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda;

لإِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan ta’at kepada suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya; ‘Masuklah kamu ke dalam syurga dari pintu mana saja yang kamu inginkan’.”

Begitu agungnya hak seorang suami yang ada pada istrinya, sehingga Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda;

لَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا وَلَوْ أَنَّ رَجُلًا أَمَرَ امْرَأَتَهُ أَنْ تَنْقُلَ مِنْ جَبَلٍ أَحْمَرَ إِلَى جَبَلٍ أَسْوَدَ وَمِنْ جَبَلٍ أَسْوَدَ إِلَى جَبَلٍ أَحْمَرَ لَكَانَ نَوْلُهَا أَنْ تَفْعَلَ

“Sekiranya aku boleh memerintahkan seseorang sujud kepada orang lain, maka akan aku perintahkan seorang isteri sujud kepada suaminya. Sekiranya seorang suami memerintahkan isterinya untuk pindah dari gunung ahmar menuju gunjung aswad, atau dari gunung aswad menuju gunung ahmar, maka ia wajib untuk melakukannya.” (HR. Ibnu Majah)

Mentaati dan Menjaga Kehormatan

Hak-hak  istri kepada suaminya diantaranya adalah mentaatinya, menjaga dan merawat rumah dan anak-anaknya, menjaga kehormatan dan harta benda suaminya, tidak mengizinkan memasuki rumah orang-orang yang tidak dikehendaki oleh suaminya, tidak keluar rumah kecuai dengan seizinnya, berpenampilan menarik dan berdandan yang cantik di hadapan suami, berusaha mencari keridhaan suami  yang itu merupakan ciri-ciri wanita yang akan menjadi penghuni Surga yang disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam;

أَلَاْ أُخْبِرُكُم بِرِجَالِكُم فِي الجَنَّةِ ؟! النَّبِي فِي الجَنَّةِ ، وَالصِّدِّيقُ فِي الجَنَّةِ ، وَالشَّهِيدُ فِي الجَنَّةِ ، وَالمَوْلُودُ فِي الجَنَّةِ ، وَالرَّجُلُ يَزُورُ أَخَاهُ فِي نَاحِيَةِ المِصْرِ – لَاْ يَزُورُهُ إِلَّا لِلَّهِ – فِي الجَنَّةِ .أَلَاْ أُخبِرُكُم بِنِسَائِكُم فِي الجَنَّةِ ؟! كُلُّ وَدُودٍ وَلُودٍ ، إِذَا غَضِبَت أَو أُسِيءَ إِلَيهَا أَو غَضِبَ زَوجُهَا ، قَالَت : هَذِه يَدِي فِي يَدِكَ ، لَاْ أَكْتَحِلُ بِغُمضٍ َحتَّى تَرضَى

“Maukah aku beritahukan kepada kalian laki-laki penghuni Surga? Para Nabi di Surga, orang-orang yang jujur di Surga, orang yang mati syahid di Surga, anak yang terlahir (mati) di Surga, seorang lelaki yang mengunjungi saudaranya di belahan kota, yang dia mengunjunginya karena Allah, di Surga. Dan maukah aku tunjukkan kepada kalian wanita ahli Surga? Yaitu setiap istri yang penuh cinta kepada suami serta penyayang kepada anaknya, yang ketika suaminya marah kepadanya ia berkata, ‘inilah tanganku berada ditanganmu, aku tidak bisa tidur memejamkan mata sehingga engkau ridho kepadaku.” (HR. Nasai)

Bandingkan dengan laki-laki dan para suami, yang mana mereka harus beramal dengan gigih untuk meraih Surga. Ia harus menjadi salah seorang shiddiqin (orang yang selalu berbuat jujur), mereka harus salah seorang sholihiin (orang yang sholih), dituntut untuk menjadi syuhadaa’ (orang yang mati syahid) bila ingin mendapat kemudahan untuk masuk Surga. Dan ia harus bersikap adil terhadap istrinya, dan itu tidaklah mudah.

Maka bagi seorang istri, sikapnya terhadap suami menentukan posisinya di Surga atau di neraka. Tidak hanya di akhirat, di dunia kalau dia taat dan berbakti kepada suami dia akan mendapat kebahagiaan dan ketentraman hidup di dunia dan rumah tangganya. Namun kalau dia mendurhakai suami, hari-harinya akan berisi laknat dari Allah azza wa jalla.
readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TAFSIR SURAT AL WAQI'AH 41-48. GOLONGAN KIRI & BALASAN ATAS MEREKA

Setelah Allah menyebutkan Golongan Terdekat (yakni golongan yang pertama) dan Golongan Kanan (golongan yang kedua), selanjutnya Allah menjelaskan keadaan Golongan kiri (golongan ketiga) di Yaumil Akhir nanti.

Golongan kiri adalah orang-orang yang diberi lembaran amal perbuatan dengan tangan kiri, bagaimana keadaan dan kesudahan mereka. Allah berfirman:

(وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ مَا أَصْحَابُ الشِّمَالِ)

(41). Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri ini? .

(Bagaimanakah golongan kiri ini? Kata tanya (harfu istifham) ini bermakna untuk menciptakan rasa takut sekaligus perintah heran dengan keadaan mereka. Lalu Allah SWT merinci keadaan mereka).

(فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ)

(42) Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas dan mendidih.

Makna kata ( سَمُوم ) samuum adalah angin panas tanpa sedikit uap air pun. Para ulama ada yang berpendapat ia terambil dari kata (مَسَام ), yang artinya pori-pori, karena panasnya tersebut sampai menembus pori-pori, juga ada yang berpendapat dari kata ( سَمَّ ) yang berarti racun, karena panasnya membinasakan seperti racun.  Dan kata hamim ( حَمِيم ) adalah air panas.

(وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ)

(43) dan dalam naungan asap yang hitam.

(Kata ( يَحْمُوم ) terambil dari kata ( الحَمام ) yang artinya arang. Kata yahmum berarti asap tebal yang hitam.

(لَا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ)

(44) Tidak sejuk—sehingga meringankan panasnya-- dan tidak menyenangkan –bila dihirup-- .

(Yaitu hembusannya tidak menyenangkan dan pemandangannya tidak membahagiakan. Dan tidak nyaman dipandang orang yang ingin berteduh di sana. Al Khazin berkata: “Naungan dan tempat teduh ada dua faedahnya; pertama mengusir panas, dan kedua nyaman dipandang dan seseorang di naungan tersebut dihormati. Namun, naungan ahli neraka tidak sama, sebab mereka berada dalam asap hitam yang panas). Kemudian Allah menjelaskan kenapa mereka diadzab demikian.


(إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُتْرَفِينَ)

(45) Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah ).

(Karena mereka hidup mewah dan foya-foya di dunia dengan menuruti hawa nafsu dan syahwat, angkuh sambil melupakan Allah).

(وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيمِ)

(46)  Dan mereka terus-menerus atas (melakukan) dosa besar.

(Mereka selalu melakukan dosa besar, yaitu mempersekutukan Allah. Ulama tafsir berkata: “Maksudnya mereka selalu melakukan dosa besar yakni kekafiran kepada Allah seperti yang dikatakan Ibnu Abbas bahwa dosa besar mereka itu adala syirik“. Sama sekali tidak terbersit niat untuk bertaubat. Ulama yang lain mengatakan bahwa dosa besar yang mereka lakukan adalah sumpah palsu, berkhianat dan lain sebagainya (Quraish Shihab).  Siksa yang disebut berbeda dari segi rinciannya dengan ganjaran yang diterima oleh penghuni surge. Ketika ganjaran untuk ahli surga, tidak disebut rinci amalan-amalan mereka. Berbeda dengan ayat yang menyebut sekian banyak dosa yang dilakukan golongan kiri.  Ini mengisyaratkan bahwa ganjaran yang diterima di surga tidak semata atas perbuatan mereka, tapi Karena kemurahan Allah SWT.  Sementara di neraka mereka disika karena ulah perbuatan mereka sendiri.

(وَكَانُوا يَقُولُونَ أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ)

(47) Dan mereka mengatakan: “Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah dan tulang-belulang, Apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?”

(Artinya, mereka mengatakan hal tersebut dengan tujuan mendustakan dan menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil).

(أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ)

(48) Apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (juga dibangkitkan)?” .

(Ini menegaskan kembali keingkaran tersebut. Maksudya apakah nenek moyang kami dahulu juga dibangkitkan selama jasad mereka hancur dan tulang- belulang mereka bercerai-berai).
Oleh : H Luthfi Hidayat
readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ramadhan Segera Tiba, Persiapkan Diri Untuk Menyambutnya

ALHAMDULILLAH, saat ini kita sudah memasuki bulan Rajab, tanda sebentar lagi sudah masuh bulan Ramadhan. Kita sering mendengar sebuah doa agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah (umur) kami kepada bulan Ramadhan.”

Allah Subhanahu WaTa’ala berfirman;

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS: At Taubah: 36)

Bulan Rajab selaku bulan yang bertetangga dengan Ramadlan mempunyai ‘percikan’ berkah sendiri. Di bulan Rajab, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sudah menampakkan bentuk kerinduan pada bulan Ramadlan, padahal antara bulan Ramadlan dengan bulan Rajab masih ada satu bulan perantaranya yaitu bulan Sya’ban. Tetapi sekali lagi, Rasulullah sudah menampakkan kegembiraan dan kerinduannya kepada bulan tersebut.

Maka pertanyaannya, apa saja yang perlu diketahui  dalam  bulan agung itu serta kelebihan apa yang dimilikinya sehingga kita yang masih di bulan Rajab ini turut mempersiapkan diri dalam menyambutnya.

Ramadlan adalah bulan yang sangat diistimewakan Allah Azza wa Jallah, karena dengannya seluruh pintu Surga dibuka dan pintu jahannam tempat penyiksaan manusia ditutup rapat.

Sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Baihaqi, dari Abu Hurairah, Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda; “Ketika tiba malam pertama bulan Ramadlan, setan-setan dan jin-jin durhaka dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, sehinga tidak ada satu pintu neraka pun yang dibuka, dan pintu-pintu surga dibuka sehingga tidak ada satu pintu surga pun yang ditutup. Lalu seseorang berseru, wahai pencari kebaikan maka sambutlah, wahai pelaku kejahatan maka tahanlah. Dan milik Allah-lah orang-orang ang dibebaskan dari neraka, dan hal itu terjadi pada setiap malam.”

Bulan Ramadlan adalah bulan yang dapat dikatakan bulan panen pahala dan berkah, sebuah bulan yang Allah subhanahu wata’ala sengaja memanjakan hamba-hambanya yang beriman, bahkan umat manusia secara keseluruhan.

Karena bulan tersebut merupakan  kesempatan yang sangat spesial dan menggiurkan bagi para pencari hidayah dan ampunan dari Rabb pemilik alam semesta ini.

Dapat kita lihat beberapa lanjutan keistimewaan bulan ramadlan selain dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka. Pertama, bulan ini adalah tempat diturunkannya kalam Allah Subhanahu Wata’ala yaitu Al-Qur’an, wahyu-Nya yang diturunkan sebagai surat cinta untuk umat manusia.

Kedua, amal sholeh akan dilipat gandakan. Ketiga, bulan ini adalah bulan yang penuh keberkahan didalamnya. Keempat, tempat pengampunan dosa. Kelima, sebuah bulan yang mendidik kita mencapai derajat ketaqwaan. Keenam,  ada satu malam yang jika kita berhasil mendapatkannya maka pahala pada malam tersebut lebih baik dari seribu bulan, dialah malam Lailatul Qadar.

Dengan melihat keistimewaan-kesistimewaan yang dimiliki bulan Ramadlan, maka pantaslah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam, para sahabatnya, para tabiut tabiin serta para ulama berharap penuh berjumpa dengannya.

Kita selaku orang Islam yang mempunyai keimanan yang tidak ada bandingnya dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dan para sahabat beliau semestinya lebih merindukannya karena tahu bahwa diri ini penuh dosa dan maksiat. Wallahu A’lam bisshowab.

Ramadhan adalah bulan dimana orang-orang sholeh dan para generasi salaf berdoa kepada Allah agar mereka disampaikan dan dipertemukan dengannya, bahkan enam bulan sebelum kedatangannya. Adalah Mualla bin al-Fadhl pernah berkata: “Mereka (ulama salaf) selama enam bulan berdoa kepada Allah supaya disampaikan ke bulan Ramadhan, dan berdoa enam bulan selanjutnya agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.” Semoga kita bisa mengikui jejaknya. [Hidayatullah/DakwahMedia]
readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KEPADA ANAK PEREMPUANKU



       Semoga DIA menjadikanmu manusia yang halus perasaannya sedemikian halus, hingga dapat kaurasakan derita orang-orang yang terlunta di lorong-lorong peradaban dan dapat kau jelang mereka dengan penuh kasih sayang karena mereka adalah bagian dari dirimu juga, perempuan.

       Semoga DIA menjadikanmu manusia yang tajam pemikirannya sedemikian tajam, hingga dapat kau pecahkan buih-buih kebencian yang meracuni pengetahuan dan jernihlah muara sejernih hulunya karena abadinya nilai-nilai kesempurnaan tak dapat digantungkan kepada apa pun lagi selain kepada bening cintamu, perempuan.

       Semoga DIA menjadikanmu manusia yang kuat sendirian sedemikian kuat, hingga ketika kau telah mampu hidup tanpa bergantung kau pun mampu memilih untuk seutuhnya tergantung kepada siapa pun yang dihadirkanNYA untukmu karena kau sadar bahwa kau memang tercipta untuk dinikahi, perempuan.

       Semoga DIA menjadikanmu manusia yang tinggi martabatnya sedemikian tinggi, hingga dapat kau rendahkan hatimu serendah-rendahnya dan tangguhlah azab bagi mereka yang belum ridho mengesakanNYA sungguh esalah sucimu hanya dengan DIA sebagai saksi karena kenyataanmu memanglah tersembunyi, perempuan.

       Semoga DIA menjadikanmu manusia yang dapat menahan pandangan sedemikian tahan, hingga ingatanmu kepadaNYA mampu menghanguskan setiap nafsu yang menyerang dari dalam dan luar dirimu dan menjadi cahaya lah wajahmu bagi pencari kebenaran serta hanya cadar hitam lah rupamu bagi pencari pembenaran karena hanya DIA lah yang kau jumpa dan hanya wajah NYA yang kau damba setiap kau temukan dirimu dalam cinta
dan..........

DIA lah hijab dihadapan siapa pun kau berada.
readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pilih Taat atau Ingkar ?


Balasan bagi orang-orang yang tidak taat kepada perintah Alloh swt dan laknat Alloh swt bagi pemimpin yang menyesatkan.
“Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata : wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Alloh dan taat (pula) kepada Rasul.”
Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.”
(TQS.al-Ahzab 33 : 66-68)

Saat ini para pemimpin negara-negara yang  mayoritas penduduknya muslim dan pemimpinnya juga muslim, mereka tidak menerapkan hukum dari Alloh swt. Jangankan menerapkan hukum Alloh swt, malah warga negara yang menjalankan syariat Alloh swt, diberi sanksi. Ada yang ditangkap aparat, dipenjara, tidak diberikan kewarganegaraan, dipecat dari pekerjaan, bahkan ada yang disiksa sampai dibunuh.
Sungguh ironis, mereka yang notabene hidup di negeri sendiri, yang pemimpin mereka juga muslim, akan tetapi untuk menjalankan syariat Alloh swt saja sangat sulit dan bahkan nyawa taruhannya.
Tetapi hal-hal seperti itu-siksaan fisik dan pembunuhan-tidak menyurutkan tekad mereka untuk menjalankan syariat Alloh swt. Malah menambah semangat keimanan. Bagaimana tidak, dalam hal seperti itu tentu keimanan kita yang berbicara. Dimana saat iman dijadikan landasan hidup manusia, maka tidak ada yang ditakutkan kecuali hanya Alloh swt. Iman yang kuat tidak akan luntur hanya dengan siksaan fisik bahkan pembunuhan, karena sejatinya mereka yang mati dijalan Alloh swt, mereka hidup di sisi-Nya. Dan apa yang manusia miliki sejatinya adalah dari Alloh swt, dan manusia Mukmin telah melakukan jual beli dengan Alloh swt.
“Sesungguhnya Alloh swt telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka (yang dibayar) dengan surga untuk mereka.” (TQS.at-Taubah  9: 111).
Maka tidak ada pilihan lain bagi manusia, keculai hanya menjalankan perintah Alloh swt dan menjauhi larangan-Nya, tanpa pilih-pilih. Sebagai manusia yang melihat kemungkaran oleh para pemimpin-pemimpin yang notebene muslim juga, kita wajib mengingatkan mereka, karena wajib bagi kita untuk memberikan nasehat yang baik (dakwah Islam) kepada mereka. Jika hal itu ditolak, maka kita tidak boleh putus asa, bangunlah dalam diri kita tekad yang sempurna. Untuk menegakkan hukum Alloh swt dan memusnahkan kemungkaran.
Dengan dakwah Islam inilah kita melakukan muhasabah kepada para pemimpin-pemimpin negeri-negeri muslim, agar menerapkan hukum-hukum Alloh swt dan tidak membuat tandingan-tandingan-Nya.
Kita juga perlu mencermati apa yang ada dibalik ingkarnya para penguasa negeri muslim saat ini. Yang hal itu kita gunakan untuk menyusun strategi yang tepat guna suksesnya dakwah kita kepada para penguasa negeri mulsim. Tentu jika para penguasa memahami betul apa itu hakikat hidup manusia yang sesnungguhnya, bahwa hidup kita di dunia hanyalah untuk beribadah kepada Alloh swt. (QS.az-Zariyat 56).
Bisa dikatakan, mereka yang ingkar kepada Alloh swt adalah orang yang gagal memahami hakikat hidup manusia. Landasan hidup mereka juga pasti salah, mabda mereka juga rusak dan bathil. Mengapa dikatakan demikian, tentu pondasi yang benar dan kokoh adlah modal pertama membangun hidup. Jika sejak dari awal sudah salah ,pasti akhir-akhirnya juga salah kaprah. Memang semua bisa berubah, bisa saja ditengah jalan mendapat hidayah, dan bisa bertubat, tapi jika tidak, bagaimana..? dan catatan penting tentang hidayah, ia tidak akan datang keapda orang-orang yang tidak berusaha memperbaiki diri. Dan Alloh swt tidak akan merubah keadaan suatu kaum, jika mereka tidak berusaha merubah diri mereka.

Mabda (ideologi) bisa saja menuntun hidup manusia, terlepas mabda itu benar/salah. Jika mabda itu benar maka disebut shoheh dan jika salah maka bathil. Dan mabda yang benar akan menuntun sang pengemban mabda pada kebahagiaan dunia akhirat, dan sebaliknya . Islamlah mabda yang benar, yang memuaskan akal, menentramkan hati dan sesuai fitrah manusia.
readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjuangan Mulia

 
Awal mula dalam hidup ini adalah perjuangan. Dalam hal perjuangan ada banyak macam juga, baik dalam pergerakan riil maupun non riil. Pergerakan riil biasa dipandang banyak melahirkan resiko dan masalah, itu banyak diucapkan oleh mereka yang bergerak tanpa dasar aqidah, mereka hanya bergerak berdasar spontanitas insiden belaka, atau berdasar penokohan semu saja. Mereka itu melupakan tujuan awal mereka berjuang, bergeraknya mereka didorong oleh perasaan sesaat yang muncul saat ada event saja, lama kelamaan setelah event itu usai pasti semangat perjuangan itu akan usai pula. Berbeda dengan mereka yang bergerak berdasar aqidah, yang akan menggerakkan mereka dalam berjuang. Ini tidak ada kaitannya dengan perasaan sesaat dan spontanitas, karena aqidah akan melekat erat dalam kalbu mereka sehingga menggerakkan dan menuntun secara terus menerus dalam pergerakan yang suci. Tanpa pamrih dan ilusi belaka, karena ditopang oleh pondasi yang kokoh dan dibimbing langsung oleh Yang Maha Kuat, Allah swt.
Dalam perjuangan yang semu pasti akan ada banyak hambatan, hambatan itu biasanya berasal dari dalam anggota. Bisa dikarenakan urusan kepentingan pribadi dan maslahat belaka. Hal ini dikarenakan penggerak mereka diawal adalah perasaan spontanitas yang sesaat, tanpa adanya pengaturan yang baik dan terkelola. Tidak ada tujuan jelas akan dibawa kemana arah gerak mereka, itu hanya bisa dilihat oleh mereka yang jeli dalam memilah dan memonitoring dunia pergerakan. Berbeda dengan pergerakan yang berdasar aqidah, walaupun hambatan yang dilalui akan lebih besar dan berat dibanding pergerakan diatas, tetapi para penggeraknya tidak akan goyah sedikitpun bak karang yang diterjang ombak berkali-kali. Karena pondasi yang dibangun dari aqidah yang sangat kuat dan kokoh yang melahirkan pribadi yang menggunakan akalnya secara optimal dan sangat taat kepada Allah swt. Para pelaku pergerakan yang berdasar aqidah yang shoheh inilah yang akan memenangkan hati masyarakat luas. Pasalnya mereka bergerak berdasar apa-apa yang diperintahkan oleh Allah swt, yang hal itu memuaskan akal , sesuai fitrah manusia dan menentramkan hati. Walaupun gesekan-gesekan awal saat bergerak berdasarkan aqidah shoheh ini ada, namun itu akan bisa disterilkan dengan sendirinya sejalan dengan pahamnya masyarakat yang menyerap nilai-nilai dari aqidah shoheh itu sendiri. Jadi, jika pola pikirnya yang sudah berubah ke arah yang lebih baik, lebih taat kepada Allah swt, maka bergeraknya mereka yang berdasarkan aqidah tentu akan sesuai peraturan Allah swt dan jika mereka menyimpang pasti akan resah dan susah, dan akan segera mencari jalan kembali kepada Al-haq.

readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tuntunan Pergaulan Dalam Islam


1.    Menjaga Pandangan
“Katakan kepada laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”(QS.An Nur : 30).
“Katakanlah kepada wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya.  Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, atau ayah suami mereka,atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara-saudara perempuan mereka, atau wanita islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita.  Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.  Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”(QS.An Nur : 31).
2.    Menutup aurat secara sempurna
“Hai nabi, katakan kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, hingga mereka tidak diganggu.  Dan Allah Maha Pengampun lahi Maha Penyanyang.”(QS.Al Ahzab:59).
“Dari Abu Sa’id Radiallahuanhu, bahwasanya Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Salam bersabda : seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat sesama laki-laki, begitu pula seorang perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan.  Seorang laki-laki tidak boleh bersentuhan kulit sesama lelaki dalam satu selimut, begitu pula seorang perempuan tidak boleh bersentuhan kulit dengan sesama perempuan dalam satu selimut."(HR.Muslim dikutip Imam Nawawi dalam Tarjamah Riyadhush Shalihin).
3.    Bagi wanita diperintahkan untuk tidak berlembut-lembut suara di hadapan laki-laki bukan mahram
“Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita lain, jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.”(QS.Al Ahzab:32).
4.    Dilarang Bagi Wanita bepergian sendirian tanpa mahramnya sejauh perjalanan satu hari
“Dari Abu Hurairah Radiallahu Anhu, ia berkata : Rasulullah Sallahu Alaihi WA salam  bersabda: Tidak halal bagi seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian yang memakan waktu sehari semalam kecuali bersama muhrimnya”(HR. Bukhari Muslim dikutip Imam Nawawi dalam Tarjamah Riyadhus Shalihin).
      Dr. Yusuf Qardhawi dalam Fatwa-fatwa Kontemporer jilid 2 halaman 542 mengemukakan : “Kaum muslimin memperbolehkan wabita sekarang keluar rumah untuk belajar di sekolah, di kampus, pergi ke pasar dan bekerja di luar rumah sebagai guru, dokter, bidan, dan pekerjaan lainnya asalkan memenuhi syarat dan mematuhi pedoman-pedoman syari’ah “(Menutup aurat, menjaga pandangan, dan lain-lain).
5.    Dilarang “berkhalwat”(berdua-duaan antara pria dan wanita di tempat yang sepi)
“Dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalin bersuyi-sunyi dengan perempuan lainnya kecuali disertai muhrimnya.” (HR. Bukhari Muslim dikutip Imam Nawawi dalam Tarjamah Riyadhus Shalihin).
6.    Laki-laki dilarang berhias menyerupai perempuan juga sebaliknya
“Dari Ibnu Abbas RA. Ia berkata : Rasulullah melaknat kaum laki-laki yang suka menyerupai kaum wanita dan melaknat kaum wanita yang suka menyerupai kaum laki-laki” (HR. Bukhari Muslim dikutip Imam Nawawi dalam Tarjamah Riyadhus Shalihin).
7.    Islam menganjurkan menikah dalam usia muda bagi yang mampu dan shaum bagi yang tidak mampu

“Wahai sekalin pemuda, barang siapa diantara kamu yang mampu nikah, maka nikahlah, sesungguhnya nikah itu bagimu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, naka jika kamu belum sanggup berpuasalah, sesunggunya puasa itu sebagai perisai”(HR.Muttafaaqun Alaihi).
readmore »»  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS